Di negeri Tirai Bambu, pembangunan satu sektor tidak dilakukan degan mengorbankan banyak sektor lainnya. Prinsip mereka jelas: “Developing one sector should not come at the expense of many others.”
Sementara di Indonesia, suatu bukit dianggap tidak bernilai, di bongkar begitu saja, hak ulayat diamankan, Materialnya di pakai untuk menimbun jalan berlumpur /menimbun tempat sampah, tanpa mempertimbangkan dampak bagi lingkungan, pertanian, kehutanan, hingga ekosistem lokal. Izin pun sering keluar tanpa kajian lintas sektor yang ketat dan ilmiah.
Sebaliknya, di Cina, perizinan sangat ketat. Setiap rencana perataan bukit wajib melewati evaluasi dari berbagai sektor.
Di Cina jika bukit ini diratakan atau memindahkan jalan di jalur kaki bukit itu akan berhadapan dengan perizinan Dinas terkait yang sangat ketat bahkan melibatkan kajian ilmiah dan teknis terinci, seperti Kehutanan memastikan hutan lindung tidak di musnahkan, lingkungan hidup di pastikan AMDAL tetap terjaga, ESDM memastikan tidak ada mineral berharga yang hilang, pertanian tidak ada perkebunan yang tertimbun, Perikanan di pastikan tidak ada kolam ikan yang terbongkar, PUPR memastikan tidak ada jalan yang di pindahkan dan perumahan memastikan rumah warga tidak di ganggu dll.
Itu sebabnya Jalan terowongan adalah pilihan terbaik bagi Cina supaya hutan lindung tidak di musnahkan, material mineral berharga tidak hilang, perkebunan tidaj diganggu, jalan lingkungan tetap terjaga, perumahan warga tidak diganggu, bukit dan hutan sebagai rumah bagi habitat tidak di musnahkan, dan bukit sebagai penghalau badai serta mengukir keindahan alam sekitarnya juga tetap terjaga.
Dengan pendekatan ini, Cina membuktikan bahwa pembangunan bisa tetap maju tanpa merusak lingkungan, tanpa menyingkirkan masyarakat, dan tanpa mengorbankan sektor lain. Inilah wujud nyata pembangunan yang berwawasan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan (sustanable development).
#Ukago Jack#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar