Selasa, 20 Mei 2025

“EDI AGOO” dan Fenomena "LA NINA": Kearifan Lokal Masyarakat Deiyai dalam Menyikapi Perubahan Iklim.

 
“Edi Agoo” dan Fenomena La Niña: Kearifan Lokal Masyarakat Deiyai dalam Menyikapi Perubahan Iklim.

Setiap tahun, masyarakat Kabupaten Deiyai di Papua mengalami musim yang mereka kenal sebagai“edi agoo”, atau dalam bahasa indonesia berarti bulan hujan. Pada masa ini, Danau Tigi sering kali meluap akibat tingginya curah hujan.

Fenomena ini telah menjadi pengetahuan yang di wariskan turun-temurun. Masyarakat pun saling mengingatkan untuk tidak berkebun terlalu dekat dengan pinggir danau Tigi karena air akan naik dan menenggelamkan tanaman ( gagal panen).

Yang menarik adalah fenomena yang di sebut masyarakat sebagai“edi agoo” ini sebenarnya berkaitan erat dengan fenomena cuaca global yang disebut "La Niña "dalam ilmu meteorologi.

Apa Itu La Niña?

La Niña adalah fenomena iklim global yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mendingin lebih dari biasanya. Kondisi ini menyebabkan angin pasat (angin timuran) menguat dan mendorong lebih banyak uap air ke wilayah barat Pasifik, termasuk Indonesia dan Papua.

Dampaknya bisa terjadi Curah hujan meningkat tajam di wilayah tropis seperti Papua, Danau dan sungai mudah meluap, Risiko bencana spt banjir dan longsor lebih tinggi.

Pengetahuan Lokal Sebagai Sistem Peringatan Dini

Masyarakat Deiyai sebenarnya sudah memahami pola ini secara turun-temurun tanpa istilah ilmiah. Mereka mengenali tanda-tanda alam, menghitung bulan berdasarkan pengalaman, dan menyesuaikan aktivitas bertani agar tidak terkena dampak “edi agoo”. 

Ini adalah kearifan lokal yang berfungsi sebaagai sistem peringatan dini alami, misalnya Tidak menanam di sekitar Danau Tigi saat memasuki musim tersebut, Mengatur pola tanam berdasarkan siklus hujan tahunan.

Menggabungkan Ilmu Modern dan Kearifan Lokal

Kondisi ini membuka peluang besar untuk menggabungkan ilmu pengetahuan cuaca modern dengan kearifan lokal, seperti Sekolah dan pemerintah dapat menjadikan “edi agoo” sebagai contoh lokal untuk mengajarkan tentang venomena "La Niña", Pengetahuan masyarakat bisa di kembangkan dlm bentuk kalender musim lokal berbasis adat, dan Program adaptasi perubahan iklim bisa lebih tepat sasaran karena berbasis budaya.

Kearifan lokal masyarakat Deiyai telah membuktikan bahwa ilmu alam tdk hanya milik dunia modern, tetapi juga tertanam kuat dalam kehidupan adat. Saat dunia menghadapi perubahan iklim, masyarakat Deiyai sudah punya dasar adaptasi yang bisa di kembangkan lebih luas terutama disaat musim hujan/ cursh hujan tinggi.

Memahami bahwas “edi agoo” adalah bagian dari La Niña bisa menjadi jembatan antara ilmu lokal dan sains global untuk kehidupan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.


#Oleh  Ukago Jack#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

" KEMBALIKAN NAMA PANTAI MAF: MENGHORMATI SEJARAH DAN JASA KEMANUSIAAN DI TANAH PAPUA"

Pantai MAF di Nabire memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari peran Mission Aviation Fellowship (MAF), sebuah organisasi pen...